SMA N 1 KOTA DEPOK

Sekolah MAUNG

Rapor STS Bukan Vonis, Tapi Peta Jalan: Begini Cara SMAN 1 Kota Depok Mendampingi Siswa

DEPOK – Pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026, mulai pukul 07.30 WIB, ruang-ruang kelas di SMAN 1 Kota Depok tidak hanya menjadi tempat belajar siswa. Hari itu, kelas berubah menjadi ruang temu antara guru dan orang tua. Di sanalah rapor Sumatif Tengah Semester (STS) diserahkan, langsung dari tangan wali kelas kepada orang tua atau wali murid, hingga pukul 11.30 WIB.

Bagi sekolah, rapor STS tidak berhenti pada deretan angka. Setiap wali kelas menerima orang tua di kelasnya masing-masing dan menyampaikan tiga hal utama: Perkembangan siswa, meliputi capaian akademik, sikap, dan kebiasaan belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Peta kekuatan dan kebutuhan belajar, yaitu mata pelajaran yang sudah baik dan yang masih perlu ditingkatkan. Saran pendampingan, agar pola belajar di rumah sejalan dengan di sekolah.

Percakapan itu berlangsung dua arah. Orang tua boleh bertanya, menceritakan kesulitan yang dihadapi anak, dan menyampaikan saran untuk sekolah. Dalam suasana hangat, kedua pihak bisa melihat siswa secara lebih utuh, tidak hanya dari nilai. Itulah yang ingin ditegaskan Plt. Kepala SMAN 1 Kota Depok, Siti Jainab, S.Kom, M.I.Kom.

“Rapor PTS bukan sekadar lembar nilai, tetapi sarana kita bertemu dan berdialog. Melalui kegiatan ini kami ingin orang tua merasa menjadi bagian dari proses pendidikan anak-anaknya. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Capaian terbaik lahir ketika guru, orang tua, dan siswa bergerak ke arah yang sama.”

Mengapa di tengah semester? STS ibarat cermin di tengah perjalanan. Ia memperlihatkan apa yang sudah dikuasai dan apa yang belum. Karena semester belum usai, masih ada waktu untuk mengubah arah sebelum penilaian akhir. Karena itu sekolah memaknainya sebagai momentum evaluasi bersama, bukan garis akhir.

Yang ingin dicapai. Sekolah ingin informasi capaian belajar tersampaikan secara terbuka, komunikasi dengan keluarga berjalan dua arah, kekuatan dan kebutuhan setiap siswa dikenali, dan langkah perbaikan disusun bersama untuk sisa semester.

Yang diharapkan. Sekolah berharap kepercayaan dan kemitraan dengan orang tua semakin kuat, serta masukan yang diterima dapat menjadi bahan perbaikan layanan dan pembelajaran. Orang tua diharapkan mendampingi dengan dukungan, bukan tekanan, serta menghargai usaha anak. Siswa diharapkan memandang nilai sebagai petunjuk arah dan bukan vonis, sehingga tumbuh tanggung jawab atas proses belajarnya.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik tumbuh dari kerja sama yang baik: guru mendidik, orang tua mendampingi, dan siswa berusaha sungguh-sungguh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *