SMA N 1 KOTA DEPOK

Sekolah MAUNG

Menemukan Kedamaian di Tengah Tuntutan Akademik: Kisah Dibalik Doa Pagi Siswa SMAN 1 Kota Depok

DEPOK — Riuh rendah aktivitas sekolah di pagi hari lazimnya dipenuhi oleh obrolan soal tugas, hafalan, atau persiapan ujian. Apalagi bagi para siswa SMAN 1 Kota Depok, suasana belakangan ini terasa kian intens pasca-pembagian rapot tengah semester serta makin dekatnya jadwal Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi kelas XII.

Namun, di tengah himpitan beban dan tuntutan tersebut, suasana menyejukkan tampak menyelimuti ruang multimedia sekolah pada pelaksanaan pembiasaan ibadah pagi serentak. Bagi siswa Kristen yang tergabung dalam Persekutuan Rohani Kristen (Rohkris), mereka berkumpul untuk saling menguatkan melalui ibadah Doa Pagi yang mengusung tema relevan: “Tetap Tenang di Tengah Tekanan”.

Siswi kelas XI-4 sekaligus ketua ekskul rohkris, Graciella Celshi Leticia, membagikan kisahnya mengenai alasan mendasar di balik pemilihan tema yang sangat dekat dengan realitas kehidupan siswa saat ini.

“Berhubungan dengan baru saja pembagian rapot tengah semester, dan juga tanggal ujian TKA yang mendekat bagi kelas 12, tentunya banyak sekali tekanan dan tuntutan dari sekolah, orang tua, dan juga diri sendiri,” ujar Graciella saat berbincang mengenai kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa Rohkris ingin menghadirkan pengingat yang menenangkan di tengah situasi yang sering kali memicu kepanikan.

“Rohkris ingin kembali mengingatkan firman Tuhan yang menyatakan untuk jangan khawatir, dan tetap percaya penuh dengan rancangan-Nya. Kami percaya bahwa dalam masa-masa yang penuh dengan tuntutan ini, para anggota Rohkris perlu dikuatkan,” tambahnya.

Renungan Doa Pagi hari itu dibawakan oleh Kak Nikolaus PTR. Dalam perenungan tersebut, Kak Niko menyoroti fenomena umum di kalangan remaja yang kerap menutup diri atau bahkan mengorbankan waktu beribadah demi mengejar target akademis maupun perlombaan.

Ketika ditanya mengenai pesan yang paling berkesan dari pembawa firman, Graciella menuturkan, “Pesan utamanya adalah berdoa dan berserah. Melalui firman hari ini, kami kembali diingatkan bahwa yang akan membawa kita jauh di masa depan adalah iman. Dan iman itu tumbuh dari pendengaran akan firman Tuhan yang hanya dapat diresapi saat kita berdoa dan berserah penuh.”

Ia melanjutkan bahwa cara ampuh untuk melewati badai tekanan bukanlah dengan berlari sendiri, melainkan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Selain itu, doa yang dipanjatkan pagi itu juga berfokus pada permohonan hikmat bagi seluruh siswa.

“Kak Niko menekankan doa permohonan penurunan hikmat dalam setiap siswa-siswi, sehingga dalam keadaan penuh tekanan, kami tidak akan mengambil tindakan gegabah atau melenceng, melainkan tetap berjalan lurus untuk memuliakan nama-Nya,” terang Graciella.

Indahnya Toleransi dalam Kebersamaan

Pelaksanaan Doa Pagi hari itu terasa makin istimewa karena berlangsung berbarengan dengan kegiatan Sholat Istisqo yang diikuti oleh siswa Muslim. Pemandangan dua kegiatan spiritual yang berjalan berdampingan secara damai tersebut memperlihatkan indahnya toleransi di lingkungan SMAN 1 Kota Depok.

“Saya tentunya merasa sangat senang. Kegiatan pembiasaan ibadah pagi ini adalah bagian favorit saya di hari Selasa, dan Jumat,” ungkap Graciella dengan nada penuh kesan.

“Saya menganggap bahwa sivitas SMANSA memiliki tingkat toleransi tinggi perihal kepercayaan, sehingga keharmonisan dapat tercipta dengan maksimal. Hal ini terlihat secara nyata dari kegiatan Doa Pagi dan Sholat yang berjalan bersamaan dengan damai,” sambungnya.

Di akhir perbincangan, Graciella menyampaikan harapan mendalamnya bagi seluruh rekan-rekannya di SMAN 1 Kota Depok. Ia menyadari bahwa di tengah tekanan yang nyata, kata-kata penyemangat terkadang terasa belum cukup.

“Menemukan ketenangan di tengah berbagai tuntutan bukanlah hal yang mudah. Rasanya, sekadar mengatakan ‘jangan khawatir dan teruslah berusaha’ terkadang terdengar klise,” akunya jujur.

“Namun, saya berdoa agar melalui kegiatan Doa Pagi ini, setiap siswa dapat semakin merasakan kehadiran Tuhan dalam hatinya, sehingga memperoleh ketenangan, kekuatan, dan pengharapan. Kiranya kita tidak hanya mampu bertahan di tengah tekanan, tetapi juga belajar untuk tetap percaya bahwa kita tidak pernah menghadapinya sendirian,” pungkasnya penuh harapan.

Penulis: Aldila Caesario Ramadhan, S. Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *